Oleh: Engkus Kuswarno (Profesor Komunikologi UNPAD)

Scroll Untuk Lanjut Membaca

“Doa bukan menggantikan kerja. Doa menjaga agar kerja tidak kehilangan arah, dan keberhasilan tidak kehilangan makna.”

Di tengah pemaparan mengenai keberhasilan Indonesia memperkuat ketahanan pangan pada Saresehan Kebangsaan Komite Sains dan Teknologi Indonesia (KSTI) di Jakarta International Convention Center (JICC), 26 Juni 2026, Menteri Pertanian menyampaikan sebuah pernyataan yang menarik perhatian. Indonesia, katanya, merupakan negara yang paling banyak berdoa di dunia.

Pernyataan itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan makna yang jauh lebih dalam daripada hanya sebuah statistik. Benarkah Indonesia merupakan negeri yang paling banyak berdoa? Jika benar, apakah hal itu hanya menunjukkan tingginya religiusitas masyarakat, atau justru mengandung pesan yang lebih mendasar tentang karakter bangsa?

Pernyataan tersebut sangat mungkin merujuk pada laporan Pew Research Center berjudul Believing in Spirits and Life After Death Is Common Around the World yang diterbitkan pada Mei 2025. Melalui survei terhadap sekitar 50.000 responden di 35 negara, penelitian itu menemukan bahwa 95 persen responden Indonesia menyatakan berdoa sedikitnya sekali setiap hari, angka tertinggi di antara seluruh negara yang diteliti.

Perlu dicatat, Pew Research Center tidak menyatakan bahwa Indonesia adalah “negara yang paling banyak berdoa di dunia” secara absolut. Yang dinyatakan adalah bahwa Indonesia memiliki proporsi responden harian yang berdoa paling tinggi di antara negara-negara yang disurvei. Perbedaan ini penting agar kita tidak menarik kesimpulan yang melampaui temuan ilmiahnya.

Namun, terlepas dari nuansa metodologis tersebut, fakta itu tetap menarik. Di tengah dunia yang semakin rasional, digital, dan berbasis teknologi, masyarakat Indonesia masih memelihara kebiasaan berdoa sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Sebelum bekerja, belajar, bepergian, memulai rapat, bahkan sebelum beristirahat, doa tetap menjadi bagian dari budaya bangsa.

Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah Indonesia paling banyak berdoa, melainkan apa makna sebuah bangsa yang masih memelihara tradisi berdoa dalam kehidupan modern?

Ketika Doa Dipahami sebagai Komunikasi

Selama ini doa lebih banyak dipahami sebagai praktik keagamaan. Padahal, dari perspektif Sains Komunikasi, doa merupakan salah satu bentuk komunikasi yang paling tua dalam sejarah manusia.
Jauh sebelum manusia mengenal media massa, internet, atau kecerdasan buatan, manusia telah lebih dahulu mengenal doa. Berdoa merupakan komunikasi antara makhluk dengan Sang Pencipta, antara yang terbatas dengan Yang Mahasempurna. Inilah yang dalam kajian komunikasi dikenal sebagai komunikasi transendental.

Komunikasi transendental berbeda dengan seluruh bentuk komunikasi lainnya. Dalam komunikasi antarmanusia, tujuan utamanya adalah menyampaikan informasi, membangun pengertian, atau memengaruhi pihak manusia lain. Dalam doa, tujuan utamanya justru bukan mengubah Tuhan. Tuhan tidak memerlukan informasi baru dari manusia. Karena itu, doa bukanlah kebutuhan Tuhan.

Dalam perspektif fenomenologi komunikasi, doa merupakan pengalaman kesadaran yang sangat personal. Ketika seseorang berdoa, ia tidak hanya mengucapkan kalimat-kalimat religius, tetapi sedang menghayati keberadaannya sebagai manusia. Ia menyadari bahwa dirinya memiliki keterbatasan, sekaligus memiliki harapan. Kesadaran semacam ini membentuk apa yang oleh para filsuf disebut sebagai kesadaran eksistensial, yaitu kesadaran tentang siapa diri manusia, dari mana ia berasal, untuk apa ia hidup, dan kepada siapa akhirnya ia akan kembali.

Dari sudut pandang ini, doa sesungguhnya merupakan salah satu bentuk komunikasi yang paling reflektif. Berbeda dengan komunikasi sehari-hari yang sering diarahkan untuk memengaruhi orang lain, komunikasi transendental lebih banyak memengaruhi pelakunya sendiri. Doa menjadi ruang kontemplasi, ruang evaluasi diri, sekaligus ruang pembentukan karakter.

Tidak mengherankan apabila hampir seluruh tradisi keagamaan mengajarkan bahwa setelah berdoa, manusia seharusnya menjadi lebih baik. Lebih sabar, lebih jujur, lebih rendah hati, lebih bertanggung jawab, dan lebih peduli terhadap sesama. Dengan kata lain, kualitas doa tidak hanya diukur dari seberapa sering ia dipanjatkan, tetapi juga dari perubahan moral yang dihasilkannya.

Doa Tidak Menggantikan Kerja

Di sinilah kita perlu menghindari dua kesalahan sekaligus. Pertama, menganggap bahwa keberhasilan bangsa semata-mata merupakan hasil doa. Kedua, menganggap bahwa doa sama sekali tidak memiliki hubungan dengan pembangunan.

Keduanya sama-sama keliru. Keberhasilan Indonesia memperkuat ketahanan pangan, sebagaimana dipaparkan Menteri Pertanian, tentu tidak lahir hanya karena masyarakatnya rajin berdoa. Keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja keras petani, kemajuan ilmu pengetahuan, inovasi teknologi, kebijakan pemerintah, tata kelola yang semakin baik, serta kolaborasi berbagai pihak.

Namun, seluruh instrumen itu dijalankan oleh manusia. Dan manusia bekerja bukan hanya dengan kecerdasannya, melainkan juga dengan nilai-nilai yang diyakininya.
Di sinilah komunikasi transendental memperoleh relevansi sosialnya. Doa memang tidak langsung menghasilkan padi. Tetapi doa dapat membentuk petani yang tekun. Doa tidak otomatis membangun bendungan. Tetapi doa dapat membentuk pemimpin yang amanah. Doa tidak menyusun kebijakan. Tetapi doa dapat mengingatkan para pengambil keputusan bahwa setiap kebijakan adalah amanat yang harus dipertanggungjawabkan.

Dengan kata lain, hubungan antara doa dan pembangunan bukanlah hubungan mekanis, melainkan hubungan moral. Doa membentuk karakter manusia, karakter membentuk budaya kerja, dan budaya kerja pada akhirnya memengaruhi kualitas pembangunan.

Bangsa yang kehilangan nilai-nilai moral mungkin tetap mampu membangun gedung-gedung tinggi, tetapi belum tentu mampu membangun kepercayaan. Sebaliknya, bangsa yang memelihara integritas akan memiliki modal sosial yang jauh lebih kokoh untuk menghadapi berbagai krisis.

Modal Peradaban Indonesia

Data hasil penelitian Pew Research Center tersebut tidak sedang mengatakan bahwa Indonesia adalah bangsa yang paling sempurna. Data itu juga tidak membuktikan bahwa secara otomatis menghasilkan kemajuan ekonomi.

Namun, data itu memperlihatkan sesuatu yang mulai langka di dunia modern bahwa masyarakat Indonesia masih memelihara komunikasi dengan Tuhan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Inilah salah satu bentuk modal komunikasi peradaban. Sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh modal ekonomi, modal manusia, atau modal teknologi, tetapi juga oleh cara masyarakatnya membangun makna, harapan, dan orientasi moral. Komunikasi transendental melalui doa merupakan salah satu sumber yang terus-menerus memperbarui modal tersebut.

Tentu saja, modal ini hanya akan bermakna apabila terwujud dalam tindakan nyata. Doa yang tidak melahirkan kejujuran, akan kehilangan makna etikanya. Doa yang tidak melahirkan kepedulian, akan kehilangan makna sosialnya. Dan doa yang tidak melahirkan tanggung jawab, akan kehilangan makna komunikasinya.

Karena itu, hasil penelitian Pew seharusnya tidak membuat kita berpuas diri. Sebaliknya, dapat menjadi pengingat bahwa semakin tinggi intensitas komunikasi kita dengan Tuhan, semakin besar pula tuntutan moral agar nilai-nilai ketuhanan tercermin dalam kehidupan publik.

Indonesia sedang bercita-cita menjadi negara maju. Kita ingin unggul dalam riset, teknologi, industri, dan ketahanan pangan. Semua itu harus terus diperjuangkan melalui ilmu pengetahuan, inovasi, dan kerja keras. Namun, di tengah perlombaan menuju kemajuan tersebut, bangsa ini tampaknya masih memelihara satu kekayaan yang tidak dapat diukur oleh produk domestik bruto ataupun indeks daya saing global, yaitu kesadaran bahwa manusia tetaplah makhluk yang memiliki keterbatasan.

Makna terdalam Indonesia Negeri Tertinggi dalam Berdoa di Dunia belum tentu mencerminkan bangsa ini lebih dekat kepada Tuhan dibandingkan bangsa lain, melainkan karena di tengah derasnya arus modernitas, masyarakat Indonesia masih mengetahui kepada siapa harapan disandarkan, kepada siapa rasa syukur dipanjatkan, dan kepada siapa seluruh ikhtiar akhirnya dipertanggungjawabkan.

Sebab, pada akhirnya, doa bukanlah tanda kelemahan manusia. Doa merupakan tanda kebijaksanaan manusia yang mengetahui batas kemampuannya. Dan dari kesadaran itulah, sebuah peradaban yang besar dapat dibangun.