‎Oleh : Devina Ayatul Husna
‎Mahasiswi Program Studi Biologi

Scroll Untuk Lanjut Membaca

(siberone.co.id) – Universitas Pamulang PSDKU Serang
‎Di tengah kesibukan akademik dan dinamika kehidupan mahasiswa yang serba cepat, sering kali kita terjebak dalam rutinitas individualistik. Hubungan antar anggota organisasi atau sesama rekan mahasiswa terkadang hanya sebatas koordinasi formal untuk menuntaskan tugas, tanpa ada kedekatan emosional yang mendalam. Padahal, sebuah organisasi atau komunitas yang sehat tidak hanya dibangun di atas fondasi struktur kerja yang rapi, tetapi juga atas rasa saling percaya dan solidaritas yang kuat. Tanpa adanya ruang informal untuk saling mengenal dan memahami, potensi friksi dan menurunnya keterikatan emosional menjadi risiko nyata yang dapat menghambat kolaborasi jangka panjang.

‎Fenomena “jauh di mata, dekat di HP” menjadi tantangan tersendiri dalam membangun ikatan sosial di era digital saat ini. Meskipun komunikasi tetap berjalan, kualitas interaksi sering kali menjadi dangkal. Padahal, dalam sebuah ekosistem organisasi, bonding atau ikatan emosional adalah pelumas yang membuat mesin organisasi bergerak lebih harmonis. Ketika para pengurus atau anggota hanya bertemu dalam situasi formal yang penuh tekanan, mereka kehilangan momen untuk memahami personalitas, latar belakang, dan aspirasi rekan sejawatnya. Inilah yang membuat kegiatan-kegiatan non-formal menjadi krusial untuk mencairkan suasana dan membangun empati kolektif.



‎Melihat realitas tersebut, kegiatan Buka Bersama (Bukber) bertajuk “Ramadan Connect” hadir bukan sekadar sebagai agenda seremonial untuk menyantap hidangan berbuka. Kegiatan ini menjadi langkah yang strategis untuk merajut kembali silaturahmi yang mungkin sempat renggang akibat kesibukan masing-masing. Di bulan yang penuh berkah ini, “Ramadan Connect” menjadi ruang dialog yang lebih humanis, di mana sekat-sekat formalitas dilepaskan dan digantikan dengan percakapan yang lebih cair dan hangat.

‎Melalui kegiatan ini, peserta diajak untuk menyadari bahwa solidaritas tidak lahir begitu saja dari instruksi atasan atau rapat koordinasi. Solidaritas adalah hasil dari kebersamaan yang tulus, di mana setiap individu merasa dihargai, didengar, dan menjadi bagian penting dari satu kesatuan. Dengan duduk bersama dalam suatu ruangan dan meluangkan waktu di tengah bulan suci, anggota organisasi dapat membangun chemistry yang kuat. Hal ini sangat penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang suportif, di mana setiap orang merasa nyaman untuk saling bantu dan berkolaborasi tanpa rasa canggung.

‎Acara ini jadi pengingat: satu meja berbuka bisa merajut benang persaudaraan yang kuat. Mari jadikan ini momentum untuk lebih banyak connect di luar bulan suci, karena silaturahmi tak mengenal musim.