Kota Tangerang, (siberone.co.id) – Untuk mengedukasi masyarakat dibidang kesehatan, khususnya terkait pencegahan stunting, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten menggelar sosialisasi peningkatan intervensi pelayanan gizi spesifik di Kelurahan Sukasari, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang pada Senin, 21 April 2025.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Anggota Komisi V DPRD Provinsi Banten, Abdul Roji mengatakan, meski angka prevalensi stunting mengalami penurunan di Kota Tangerang, namun kegiatan sosialisasi dan edukasi ini penting untuk terus memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait penyebab dan pencegahan stunting.

“Kami DPRD Provinsi Banten bersama Dinkes memberikan pemahaman tentang stunting. Supaya masyarakat paham cara menjaga dan merawat anak-anaknya agar tidak terkena stunting. Karena ini demi masa depan bangsa kita kedepan lebih baik lagi,” tegasnya.
Sementara itu, dalam pemaparannya pemateri dari Dinas Kesehatan Kota Tangerang Nita, menjelaskan sosialiasi dan edukasi ini penting dilakukan agar masyarakat paham terkait penyebab dan gejala yang dialami warga yang mengalami stunting.
Menurutnya stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi dalam jangka panjang. Stunting bisa disebabkan oleh malnutrisi yang dialami ibu saat hamil, atau anak pada masa pertumbuhannya.

“Jadi stunting ini salah satunya ditandai dengan tinggi anak yang lebih pendek daripada standar usianya. Meski begitu, perlu diketahui bahwa anak yang tinggi badannya di bawah rata-rata belum tentu mengalami kekurangan gizi. Hal ini bisa jadi karena tinggi badan dapat dipengaruhi oleh faktor genetik. Jadi bila kedua orang tua berpostur tubuh pendek, anak juga bisa memiliki kondisi yang sama,” kata Nita.

Menurutnya Pemerintah Kota Tangerang terus berinovasi dalam mengatasi berbagai pemasalahan serta isu strategi bidang kesehatan. Salah satunya, mendorong percepatan penurunan stunting di 13 kecamatan yang ada di Kota Tangerang.

Sebagaimana diketahui, Pemerintah Indonesia melalui Dinas Kesehatan mentargetkan penurunan prevalensi stunting menjadi 18% pada tahun 2025 dengan
sasaran utamanya ibu hamil, bayi, balita, dan anak-anak yang berisiko stunting.