SERANG, (siberone.co.id) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Serang menggelar kegiatan “Pelatihan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kusta dan Frambusia” secara intensif selama lima hari berturut turut hingga Jumat mendatan, acara diselenggarakan di Hotel Forbis Kabupaten Serang Senin 22 Juni 2025.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Langkah strategis ini diambil sebagai respons cepat terhadap masih tingginya temuan kasus kusta di wilayah Kabupaten Serang.
Berdasarkan data terbaru yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut, saat ini tercatat ada total 211 penderita kusta yang sedang menjalani masa pengobatan di seluruh wilayah Kabupaten Serang.

Hal yang menjadi perhatian serius pihak Dinas Kesehatan adalah tingkat keparahan dan sebaran penularan di masyarakat.

Selain itu, terdapat 11 kasus kusta yang menyerang anak anak, menandakan bahwa rantai penularan di lingkungan masyarakat masih berjalan aktif.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Serang dr. H. Efrizal, MARS menjelaskan bahwa penyakit kusta bukanlah penyakit yang timbul secara mendadak, melainkan membutuhkan waktu inkubasi yang lama. Munculnya kasus pada anak dan adanya tingkat kecacatan pada kasus baru menjadi indikator bahwa sistem penemuan dini di lapangan masih perlu dioptimalkan.

“Penemuan kasus baru yang disertai kecacatan ini menunjukkan adanya kelemahan dalam deteksi dini kita di lapangan. Penemuannya agak terlambat. Begitu juga dengan adanya 11 kasus pada anak anak, ini menjadi alarm keras bahwa anak pun sudah tertular. Artinya, interaksi dan paparan di lapangan luar biasa lama tanpa penanganan yang cepat,” ujarnya di sela sela kegiatan.

Melalui pelatihan refreshment ini, Dinkes Kabupaten Serang membekali kembali para pemegang program kusta dari seluruh Puskesmas. Dari total 31 Puskesmas yang ada di Kabupaten Serang, sebanyak 30 Puskesmas mengirimkan utusannya, sementara satu Puskesmas lainnya tercatat telah mendapatkan pelatihan serupa sebelumnya.

Dinkes menekankan bahwa penanganan kusta tidak bisa hanya bertumpu pada pemegang program saja, melainkan membutuhkan kolaborasi multi sektor di fasilitas kesehatan.
“Di lapangan nanti, para pemegang program ini bertugas memastikan dan mengoordinasikan kembali. Kita butuh kerja sama dari dokter puskesmas, tim kesehatan anak, hingga tim kesehatan Ibu dan Anak (KIA) untuk saling membantu melacak dan mendeteksi kusta secara dini berdasarkan ilmu yang disegarkan hari ini,” tambahnya.

Dengan pelatihan komprehensif selama lima hari kerja ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Serang berharap kemampuan jajaran puskesmas dalam melakukan surveilans, deteksi dini, dan tata laksana pengobatan kusta serta frambusia dapat meningkat tajam, sehingga mata rantai penularan dapat segera diputus dan angka kecacatan baru dapat ditekan hingga nol persen.(ADV)