Oleh: Engkus Kuswarno
Profesor Sains Komunikasi Universitas Padjadjaran

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Ada kalanya sebuah perjalanan tidak hanya mempertemukan kita dengan tempat baru, melainkan juga membawa kita kembali menemukan makna dari budaya sendiri.

Semula saya membayangkan ketika datang ke Korea Selatan akan menemukan laboratorium berteknologi tinggi, kampus modern, atau kawasan industri yang menjadi simbol kemajuan negara itu.

Semua itu memang saya temukan. Namun, ada sesuatu yang jauh lebih membekas daripada gedung-gedung megah dan kecanggihan teknologi. Saya menemukan sebuah bahasa yang tidak diucapkan, tetapi terus-menerus hadir dalam setiap perjumpaan.

Bahasa itu bukan bahasa Korea Selatan, juga bukan bahasa Inggris yang digunakan dalam percakapan akademik. Bahasa itu adalah bahasa kesopanan—bahasa yang disampaikan melalui gerak tubuh, intonasi suara, ekspresi wajah, cara mempersilakan tamu duduk, hingga bagaimana secangkir kopi disajikan. Saya menyebutnya komunikasi tanpa kata.

Pengalaman pertama saat bertemu seorang profesor, nampak masih muda, akan tetapi baru tahu kemudian bahwa masa bhaktinya tinggal 2 tahun lagi. Sebelum berjabat tangan, beliau terlebih dahulu sedikit membungkukkan badan. Gerakannya singkat, alami, dan nyaris tanpa disadari.

Tidak ada kalimat yang panjang, tidak ada sambutan yang berlebihan. Namun, dalam beberapa detik saya merasakan sebuah penghormatan yang tulus. Di saat itulah ingatan saya melayang jauh ke Tatar Sunda.

Dalam budaya Sunda, kita mengenal sebuah sikap tubuh yang sederhana tetapi sarat makna, yaitu rengkuh. Ketika berpapasan dengan orang yang lebih tua, seorang guru, atau tamu yang dihormati, tubuh sedikit direndahkan sambil mengucapkan punten. Gerakan itu bukan hanya kebiasaan fisik, melainkan cara menyampaikan pesan bahwa kita menghargai kehadiran orang lain. Rengkuh adalah bahasa tubuh yang berbicara sebelum kata-kata terucap.

Di Korea Selatan, saya menemukan gestur yang sangat mirip. Mereka menyebutnya jeol (절), yaitu tradisi membungkukkan badan sebagai bentuk penghormatan. Derajat kemiringannya pun berbeda-beda, bergantung kepada siapa penghormatan diberikan dan dalam situasi apa dilakukan. Semakin tinggi penghormatan yang ingin disampaikan, semakin dalam pula tubuh membungkuk. Tradisi serupa juga dikenal di Jepang dengan istilah ojigi (お辞儀).

Walaupun lahir dari sejarah dan kebudayaan yang berbeda, ketiganya menyampaikan pesan komunikasi yang sama, yakni penghormatan didahulukan sebelum percakapan dimulai.

Perjumpaan sederhana itu membuat saya bertanya dalam hati mengapa budaya yang dipisahkan ribuan kilometer dapat memiliki cara berkomunikasi yang begitu mirip?
Jawabannya, saya kira tidak terletak pada bahasa yang digunakan, melainkan pada cara kedua masyarakat memahami hubungan antarmanusia. Baik masyarakat Sunda maupun masyarakat Korea Selatan memandang komunikasi bukan hanya pertukaran informasi, tetapi juga upaya memelihara harmoni sosial. Dalam masyarakat seperti ini, kata-kata bukanlah satu-satunya medium komunikasi. Bahkan sering kali, yang tidak diucapkan justru lebih bermakna daripada yang diucapkan.

Para ahli komunikasi menyebutnya sebagai budaya konteks tinggi (high-context culture), sebuah konsep yang diperkenalkan oleh Edward T. Hall. Dalam budaya konteks tinggi, makna komunikasi tidak seluruhnya berada pada kalimat yang diucapkan. Makna tersembunyi dalam situasi, hubungan sosial, ekspresi wajah, intonasi suara, bahasa tubuh, bahkan dalam jeda dan diam. Orang belajar membaca isyarat, bukan hanya mendengar kata.

Bagi masyarakat yang tumbuh dalam budaya konteks rendah, komunikasi yang demikian mungkin dianggap tidak langsung, bahkan membingungkan. Namun, bagi orang Sunda maupun orang Korea Selatan, komunikasi semacam itu justru dipandang lebih santun karena memberikan ruang bagi perasaan orang lain. Menjaga harmoni sering kali lebih penting daripada memenangkan perdebatan.

Saya kemudian menyadari bahwa selama ini kita terlalu sering mengukur kemajuan Korea Selatan dari hal-hal yang kasatmata, yaitu industri elektronik, otomotif, kapal, semikonduktor, hingga budaya populer seperti K-Pop dan drama televisi. Padahal, kemajuan itu sesungguhnya bertumpu pada fondasi budaya yang jauh lebih tua, yaitu penghormatan terhadap sesama, kedisiplinan dalam kehidupan sosial, dan kesadaran bahwa setiap orang adalah bagian dari komunitas yang harus dijaga martabatnya.

Nilai-nilai seperti itu sebenarnya tidak asing bagi masyarakat Sunda. Kita mengenal someah hade ka semah, memuliakan tamu sebagai bentuk penghormatan kepada kemanusiaan. Kita mengenal silih asih, silih asah, dan silih asuh sebagai prinsip membangun hubungan sosial. Kita mengenal rasa éra, teu merenah, dan pamali sebagai pengendali perilaku. Semua itu merupakan bahasa komunikasi yang diwariskan lintas generasi, meskipun sering kali tidak pernah diajarkan secara formal di ruang kelas.

Karena itulah, semakin lama saya berada di Korea Selatan, semakin kuat keyakinan saya bahwa kedekatan antara masyarakat Sunda dan Korea Selatan bukan terutama terletak pada kemiripan adat atau tradisi, melainkan pada cara keduanya memahami makna penghormatan. Mereka sama-sama percaya bahwa komunikasi yang baik tidak selalu dimulai dari kefasihan berbicara, melainkan dari kesediaan merendahkan diri di hadapan orang lain.

Mungkin di sinilah letak pelajaran pertama yang saya bawa pulang dari Ulsan dan Inje. Peradaban besar ternyata tidak selalu dimulai oleh pidato-pidato besar. Peradaban justru sering lahir dari gerakan-gerakan kecil yang dilakukan dengan penuh kesadaran, yaitu sedikit membungkukkan badan ketika menyapa, mempersilakan tamu duduk sebelum diri sendiri duduk, menurunkan nada suara ketika berbicara kepada orang yang lebih tua, atau mengucapkan terima kasih dengan kedua tangan yang terulur hormat.

Komunikasi, pada akhirnya, bukan hanya persoalan kata-kata. Komunikasi merupakan cara manusia memanusiakan manusia.

Ketika Secangkir Kopi Menjadi Bahasa Penghormatan

Selama beberapa hari berada di Ulsan, Inje dan kota sekitarnya, saya mulai menyadari bahwa masyarakat Korea Selatan tidak hanya berbicara melalui kata-kata. Mereka berbicara melalui tubuh, ruang, waktu, bahkan benda-benda yang mengelilinginya. Semakin lama saya mengamati, semakin terasa bahwa hampir setiap sudut kehidupan sehari-hari menyimpan pesan komunikasi yang halus. Pesan itu tidak diucapkan, tetapi dipahami bersama oleh masyarakatnya.

Pengalaman yang paling membekas justru terjadi bukan di ruang sidang akademik atau laboratorium penelitian, melainkan di sebuah kafe sederhana milik seorang profesor.

Beliau adalah akademisi yang aktif mengajar, membimbing mahasiswa pascasarjana, memimpin berbagai riset, sekaligus menjadi mitra penelitian internasional. Di Indonesia, gambaran tentang seorang profesor sering kali identik dengan ruang kerja, seminar ilmiah, jurnal bereputasi, atau rapat akademik. Tidak sedikit pula yang masih memandang jabatan profesor sebagai simbol prestise yang harus dijaga jaraknya dari pekerjaan-pekerjaan yang dianggap “biasa”.

Namun, profesor yang saya temui di Korea Selatan memperlihatkan wajah akademisi yang berbeda.

Di lantai atas bangunan rumahnya terdapat laboratorium penelitian tempat berbagai aktivitas ilmiah berlangsung. Di lantai bawah terdapat sebuah kafe kecil yang hangat dan sederhana. Di sanalah beliau, bersama istrinya, menyambut para tamu.
Saya terkesan bukanlah kenyataan bahwa beliau memiliki usaha kafe, akan tetapi jauh lebih bermakna adalah cara beliau melayani tamunya.

Beliau sendiri yang turun menyambut kami, mempersilakan duduk, menyeduhkan kopi, dan menghidangkannya sendiri ke meja.
Sementara sang istri dengan ramah menyiapkan roti dan kue buatannya sendiri di rumah. Tidak ada kesan bahwa melayani tamu adalah pekerjaan yang merendahkan martabat seorang profesor. Sebaliknya, justru dalam pelayanan itulah saya melihat kebesaran seorang ilmuwan.

Saya teringat pada falsafah Sunda, someah hade ka semah. Memuliakan tamu bukan semata etika sosial, melainkan penghormatan terhadap kemanusiaan. Dalam budaya Sunda, tuan rumah lazimnya tidak hanya berkata, “Mangga, silakan masuk.” Ia akan mengantar tamunya hingga duduk, menawarkan minuman, bahkan sering kali merasa teu merenah apabila tamunya belum dijamu dengan layak.

Di Korea Selatan, saya merasakan semangat yang sama. Tidak banyak kata yang diucapkan. Namun secangkir kopi yang disajikan dengan kedua tangan, senyum yang tulus, serta cara tuan rumah berdiri sedikit membungkuk ketika menuangkan minuman telah menyampaikan pesan yang sangat jelas “Kehadiran Anda kami hormati.”

Dalam perspektif komunikasi, pelayanan seperti itu bukan hanya aktivitas sosial, melainkan sebuah pesan. Edward T. Hall pernah mengingatkan bahwa dalam budaya konteks tinggi, makna komunikasi lebih banyak tersembunyi di balik perilaku daripada di dalam kalimat. Apa yang dilakukan seseorang sering kali lebih dipercaya daripada apa yang diucapkannya.
Mungkin itulah sebabnya masyarakat Korea Selatan tidak memerlukan banyak ekspresi verbal untuk menunjukkan penghormatan. Mereka tidak harus berkali-kali mengatakan “kami menghargai Anda”. Penghormatan itu sudah lebih dahulu hadir melalui tindakan.

Saya mulai memahami mengapa suasana perjumpaan di Korea Selatan terasa begitu tenang. Mereka tidak tergesa-gesa berbicara, tidak saling memotong pembicaraan, nada suara cenderung rendah, ritme berbicara lebih lambat.

Jeda tidak dianggap sebagai kekosongan, diam bukan pertanda ketidaktahuan, diam justru memberi ruang bagi orang lain untuk menyelesaikan pikirannya.

Di sinilah saya kembali teringat pada budaya Sunda. Dalam percakapan sehari-hari, orang Sunda yang sedang berbicara kepada orang yang lebih tua hampir selalu menurunkan volume suara. Kalimat diucapkan dengan lebih hati-hati. Bahkan ketika menyampaikan kritik, pilihan katanya dibuat sedemikian rupa agar tidak melukai perasaan lawan bicara.

Bagi sebagian budaya Barat yang lebih berorientasi pada komunikasi langsung (low-context culture), pola semacam ini mungkin dianggap terlalu berputar-putar. Akan tetapi, bagi masyarakat Sunda maupun Korea Selatan, menjaga hubungan jauh lebih penting daripada memenangkan argumen.

Komunikasi tidak diarahkan untuk menunjukkan siapa yang paling benar. Komunikasi diarahkan agar hubungan tetap terpelihara.

Semakin lama saya mengamati kehidupan masyarakat Korea Selatan, semakin saya menyadari bahwa komunikasi mereka juga hadir melalui artefak budaya.
Lihatlah ruang-ruang publik mereka. Kampus, stasiun kereta, perpustakaan, hingga kafe-kafe kecil hampir selalu tertata rapi. Penataan ruang terasa sederhana, tidak berlebihan, tetapi menghadirkan kenyamanan. Kursi-kursi tersusun simetris. Lorong-lorong bersih. Penunjuk arah dibuat jelas tanpa harus berteriak melalui warna-warna mencolok.

Semua itu sesungguhnya sedang berbicara. Ruang yang rapi menyampaikan penghormatan kepada orang yang menggunakannya. Kebersihan menyampaikan penghormatan kepada komunitas. Ketepatan waktu menyampaikan penghormatan kepada orang lain.

Dalam ilmu komunikasi, artefak seperti tata ruang, pakaian, desain bangunan, warna, hingga benda-benda yang digunakan sehari-hari merupakan bagian dari komunikasi nonverbal. Manusia tidak hanya berbicara melalui tubuhnya, tetapi juga melalui lingkungan yang diciptakannya.

Bahkan, saya memperhatikan sesuatu yang tampak sederhana. Di berbagai tempat, masyarakat Korea Selatan terbiasa menerima atau memberikan sesuatu menggunakan kedua tangan, atau setidaknya satu tangan yang disangga tangan lainnya. Ketika menyerahkan kartu nama, menerima dokumen, menuangkan minuman, atau memberikan cendera mata, kedua tangan seolah menjadi simbol penghormatan.

Gerakan kecil itu mengingatkan saya pada kebiasaan orang Sunda ketika nyanggakeun sesuatu kepada orang yang dituakan. Nilainya bukan terletak pada bendanya, melainkan pada cara memberikannya.
Ternyata, komunikasi tidak hanya berada pada pesan yang disampaikan. Komunikasi juga berada pada cara pesan itu disampaikan.

Semakin saya memahami kehidupan masyarakat Korea Selatan, semakin saya percaya bahwa kemajuan mereka bukan hanya hasil investasi besar pada teknologi, pendidikan, atau industri. Di balik semua itu terdapat investasi yang jauh lebih mendasar, yaitu investasi pada budaya komunikasi.

Mereka mendidik masyarakatnya untuk menghormati sebelum berbicara, membangun kepercayaan sebelum bertransaksi, mengutamakan hubungan sebelum kepentingan, dan semua itu dilakukan tanpa banyak pidato.

Cukup melalui gerakan tubuh, intonasi suara, cara melayani tamu, secangkir kopi yang dihidangkan dengan hormat, dan sebuah senyum yang tidak dibuat-buat.

Saya pun mulai bertanya kepada diri sendiri. Barangkali selama ini kita terlalu sibuk mempelajari teknologi Korea Selatan, tetapi kurang memperhatikan bahasa yang justru menjadi fondasi keberhasilannya.

Bahasa itu tidak diajarkan melalui kamus melainkan hidup dalam kebiasaan sehari-hari. Bahasa itu adalah komunikasi tanpa kata.

Rengkuh, Jeol, dan Masa Depan Komunikasi Budaya

Perjalanan ke Korea Selatan akhirnya membawa saya pada sebuah kesadaran yang sederhana, tetapi mendalam. Selama ini kita sering mengagumi Korea Selatan karena keberhasilannya membangun industri elektronik, otomotif, semikonduktor, hingga budaya populer yang mendunia.

Namun sesungguhnya, semua itu hanyalah puncak gunung es. Di bawahnya terdapat fondasi yang jauh lebih kokoh, yaitu budaya komunikasi yang dibangun selama puluhan bahkan ratusan tahun.

Teknologi dapat dibeli, pabrik dapat dibangun, infrastruktur dapat dirancang, namun kepercayaan tidak pernah lahir dari mesin. Kepercayaan tumbuh dari cara manusia memperlakukan manusia.
Di sinilah saya melihat bahwa masyarakat Sunda sesungguhnya memiliki modal budaya yang tidak kalah berharga.

Kita mengenal rengkuh, yaitu sikap tubuh yang merendah sebagai tanda hormat. Kita mengenal someah hade ka semah, yaitu keyakinan bahwa tamu harus diperlakukan dengan tulus. Kita mengenal silih asih, silih asah, silih asuh sebagai prinsip membangun relasi sosial. Kita mengenal rasa éra, teu merenah, dan pamali sebagai pengendali perilaku agar tidak melukai orang lain.

Selama ini nilai-nilai tersebut sering dipandang hanya sebagai adat istiadat atau sopan santun (etiket). Padahal, dari perspektif ilmu komunikasi, semua itu merupakan sistem komunikasi sosial yang sangat canggih. Nilai-nilai tersebut mengajarkan bahwa pesan tidak hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi juga melalui tubuh, tindakan, ruang, waktu, dan hubungan antarmanusia.

Ketika saya mengamati masyarakat Korea Selatan, saya menemukan cara berpikir yang hampir serupa. Mereka tidak terburu-buru membangun kepercayaan melalui retorika. Mereka membangunnya melalui konsistensi perilaku.

Profesor yang melayani tamunya sendiri, mahasiswa yang membungkukkan badan kepada dosennya, pegawai yang menerima dokumen dengan kedua tangan, masyarakat yang menjaga ketenangan di ruang publik, hingga ketepatan waktu dalam setiap janji—semuanya merupakan bagian dari bahasa yang sama.

Mereka tidak mengatakan, “Saya menghormati Anda.”, melainkan mereka menunjukkannya.

Saya kemudian bertanya kepada diri sendiri, mungkinkah keberhasilan Korea Selatan sesungguhnya tidak hanya dibangun oleh investasi pada pendidikan dan riset, tetapi juga oleh investasi jangka panjang pada budaya komunikasi?

Pertanyaan itu menjadi semakin menarik ketika saya mengingat pengalaman bertemu para akademisi di negeri ginseng itu. Hampir tidak ada percakapan yang diwarnai sikap ingin mendominasi. Tidak ada kesan ingin memperlihatkan siapa yang paling pintar. Sebaliknya, suasana diskusi berlangsung tenang, penuh perhatian, dan saling memberi ruang. Mereka mendengarkan hingga lawan bicara selesai berbicara. Mereka mencatat sebelum menanggapi. Bahkan ketika berbeda pendapat, intonasi suara tetap rendah dan ekspresi wajah tetap bersahabat.

Barangkali inilah bentuk komunikasi ilmiah yang sesungguhnya. Bukan komunikasi yang dipenuhi perlombaan menunjukkan kepakaran, melainkan komunikasi yang bertujuan memperkaya pemahaman bersama.

Saya membayangkan, apabila budaya seperti ini semakin tumbuh di lingkungan akademik Indonesia, kampus tidak hanya menjadi tempat lahirnya ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang tumbuhnya kepercayaan.

Dalam ilmu komunikasi, kita mengenal konsep komunikasi nonverbal, kinesik, proksemik, dan artefak budaya. Selama ini konsep-konsep tersebut banyak dijelaskan melalui contoh dari Barat, Jepang, atau Korea Selatan. Namun setelah perjalanan ini, saya justru melihat bahwa masyarakat Sunda memiliki kekayaan komunikasi nonverbal yang belum banyak diperkenalkan kepada dunia.

Mengapa rengkuh tidak kita tempatkan sebagai salah satu konsep komunikasi Indonesia?

Bukankah rengkuh bukan hanya gerakan tubuh? Rengkuh merupakan representasi penghormatan, simbol kerendahan hati, pengakuan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang harus dihormati.

Sebagaimana dunia mengenal jeol di Korea Selatan dan ojigi di Jepang, mungkin sudah saatnya dunia juga mengenal rengkuh sebagai bahasa tubuh masyarakat Sunda. Bukan untuk menunjukkan bahwa satu budaya lebih baik daripada budaya lain, melainkan untuk memperlihatkan bahwa Nusantara memiliki warisan komunikasi yang kaya dan relevan bagi kehidupan modern.

Saya semakin yakin bahwa komunikasi lintas budaya tidak selalu harus dimulai dengan mempelajari bahasa asing. Sering kali, justru dimulai dengan memahami nilai-nilai yang hidup di balik bahasa itu.

Karena pada akhirnya, bahasa dapat dipelajari dalam beberapa bulan, kosakata dapat dihafalkan, tatabahasa dapat dilatih, namun memahami makna penghormatan memerlukan perjalanan budaya yang jauh lebih panjang.

Ketika kembali ke Bandung, saya tidak membawa pulang teknologi baru, saya juga tidak membawa pulang resep rahasia pembangunan Korea Selatan. Akan tetapi saya bawa pulang justru serangkaian pengalaman kecil yang barangkali luput dari perhatian banyak orang.

Karena sesungguhnya, sebelum manusia pandai berbicara, tubuh telah lebih dahulu mengajarkan cara menghormati sesama, dan mungkin dari sanalah setiap peradaban besar bermula.