CILELES, (siberone.co.id) – Ribuan warga memadati area Mushola Attaqwa Kp. Pasir Peuteuy RT 01 RW 01 Desa Cileles, Kecamatan Cileles, Kabupaten Lebak, Banten, sejak Rabu malam (26/8/2026). Mereka berkumpul dengan penuh antusias untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang ke-1448 Hijriah.
Namun, di balik riuhnya lantunan shalawat dan tradisi pemberian berkat, ada makna spiritual mendalam yang kerap luput dari perhatian umat. Peringatan tahun ini sejatinya menjadi momen penting sebagai madrasah penyucian hati dan sarana pemersatu sosial antar lapisan masyarakat.
Ketua Panitia Pelaksana, Handa, di sela acara menegaskan bahwa esensi utama dari peringatan Maulid Nabi bukan sekadar rutinitas seremonial tahunan atau ajang berkumpul tanpa makna.
“Banyak dari kita yang terjebak pada kemeriahan fisik, seperti indahnya dekorasi atau banyaknya makanan. Padahal, arti mendalam yang jarang kita sadari adalah bagaimana membawa akhlak Rasulullah ke dalam rumah tangga dan media sosial kita hari ini. Perayaan ini adalah momen mengukur sejauh mana kita rindu dan meniru perilaku Nabi dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Handa kepada siberone.co.id.
Acara yang berlangsung dari ba’da Isya hingga selesai tersebut berlangsung sangat khidmat. Rangkaian kegiatan diisi dengan pembacaan kitab Al-Barzanji, lantunan ayat suci Al-Qur’an oleh qori dari anggota Polda Banten Ustadz Bripda Fiqhie Fauzi, serta ceramah agama yang mencerahkan oleh Ki Guludug.
Kehangatan begitu terasa saat warga dari berbagai kampung duduk setara tanpa sekat, menikmati hidangan bersama dalam tradisi riungan. Tradisi lokal ini sukses menjadi simbol luruhnya ego dan perbedaan di antara sesama warga yang hadir.
Menariknya, prosesi acara malam itu dirancang secara interaktif. Panitia sengaja melibatkan generasi muda (Gen Z) sebagai penggerak utama, terutama dalam pemanfaatan teknologi informasi untuk menyebarluaskan syiar Islam. Cara ini dinilai sukses menjembatani nilai-nilai tradisional dengan perkembangan zaman, sehingga pesan dakwah tetap relevan dan menyentuh hati anak muda.
Peringatan Maulid Nabi di Pasir Peuteuy tahun ini berhasil membuka mata jemaah bahwa mencintai Nabi berarti menghidupkan sifat humanis beliau, seperti menebar kedamaian, mempererat tali silaturahmi, serta menjaga lisan dan jemari di era digital.(red)

